Menulis Apa Adanya Menceritakan Realitas?

Kalau boleh menyebut, lebih tepatnya ini bukan buku kumpulan cerpen melainkan buku dokumentasi perjuangan belajar menulis. Bagaimana tidak? Setiap pertemuanya mahasiswana diwajibkan membaca tulisanya, lalu di bantai habis-habisan oleh si pendengarnya. “Ada jenis mahasiswa yang marah dan legowo menerima ketika kritik tanpa tedeng aling-aling keluar dari berbagai macam sudut ruang perkuliahan”. Tuturnya dalam pengantar. Ternyata selain memotivasi dengan memberi tugas menulis setiap pertemuan, ismail marahimin juga menciptakan ruang terbuka di mata kuliahnya.

Pagi lalu dan kini

Semenjak waktu merayu pulang. Aku terdiam lama sepanjang malam. Pagi bisiknya mulai pudar. Hanya senja yang akan kau lewatkan. Tanpa siang, pa