Mencari Arah Kita (KPMDB Solo Raya)

Dari hari ke hari kita terasa semakin terpisah jauh dengan sejarah KPMDB, turun temurun penjelasan sejarah hanya sekeder tahun dan kota berdirinya saja, sebagai orang yang pernah dibesarkan dalam keluarga ini serasa ada hutang yang sesegera perlu dilunasi. Alasan kenapa kemudian kpmdb didirikan baknya tak pernah terjawab secara tegas dan mendalam, adalah hari ini seolah-olah KPMDB hanya sekeder tempat ngumpul anak-anak muda daerah brebes bercanda tawa sembari menikmati kopi di kosongnya waktu perkulihan, Pelipur lara atas kerinduannya pada kampung halaman, ngobrol dialek kampung halaman dengan santai diwarung-warung kopi sebagai upaya menjaga bahasanya. Yah memang benar itu semua, Bukan bermaksud mengajak bernostalgia ke masa lampau atau menanamkan paham romantisme sejarah yang bermuara pada kebanggaan berlebih akan daerah melainkan mencari pesan-pesan untuk diramu bersama sebagai spirit dalam ber-KPMDB, bergerak dan berjuang.

Penamaan oraganisasi dengan kata awal “keluarga” tentu tidaklah tanpa makna yang kemudian tak perlu ditelusuri lebih mendalam, dalam kamus besar bahasa indonesia keluarga berarti 4satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat, keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat, sebagai bagian dari masyarakat ikut andil dalam menciptakan kebudayaan di dalamnya, pengertian keluarga berkaitan erat dengan hubungan atau ikatan, memungkinkan terjadinya aksi sosial. Modal dasar terjadinya aksi sosial adalah hubungan/ikatan tingkah laku individu, sebagaimana weber mengkalsifikasikan empat tipe ideal aksi sosial, yaitu[1] :

  1. Aksi yang bertujuan, yakni tingkah laku yang ditunjukan untuk mendapatkan hasil-hasil yang efisien
  2. Aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, yang diartikan sebagai perbuatan untuk merealisasikan dan mencapai tujuan.
  3. Aksi tradisional yangmenyangkut tingkah laku yang melaksanakan suatu aturan yang bersanksi
  4. Aksi yang emosional, yaitu yang menyangkut perasaan seseorang.

Berdasarkan klasifikasi ideal aksi sosial diatas, makna “keluarga” adalah modal dasar terjadinya aksi sosial dalam tingkat terendah, hubungan perasaan antar individu pemicu dasar dalam bergerak, sebelum naik pada tahapan aksi yang lebih tinggi yaitu aksi bertujuan. Inilah fitrah awal ber-KPMDB yaitu spirit kekeluargaan, mengerti, mengenal dan memahami satu sama lain, sebagai modal dasar bergerak bersama dalam mencapai tujuan organisasi.

Sebagai organisasi yang terlahir dalam rahim kota pelajar dan juga merupakan organisasi pelajar sudah barang tentu syarat dengan spirit keterpelajaran, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan selalu memproduksinya. Terdiri dari pelajar dan mahasiswa, tidak lepas dari kecerdasaan dan pengetahuan yang relatif lebih tinggi dari pada umumnya, usia yang masih muda, status sosial yang cukup terpandang dan sangat menguntungkan, serta bebasnya mahasiswa dari beban-beban kehidupan sehari-hari sebagaiman yang ditanggung oleh orang yang sudah berkeluarga, maka tampil sebagai suatu lapisan dalam masyarakat yang paling vokal, artinya sebagai kelompok yang paling banyak dan berani menyatakan pendapat dan ide-ide, berkapasitas lebih besar untuk menyerap ide-ide yang datang dari orang lain dan bahkan mampu memproduksi ide-ide sendiri secara orisinal[2]. Menjaga tradisi keilmuan seperti membaca, berdiskusi dan menulis merupakan identitas seorang terpelajar yang tidak tercerabut dari sifat keterpelajaranya merupakan fitrah kedua KPMDB.

Mahasiswa sebagai kelompok dengan hak-hak istimewa hasil dari kualitas-kualitas yang melekat padanya, sehingga kehidupan kemahasiwaan senantiasa ditandai dengan kedinamisan dan semangat inovatif, adanya kebebasan relatifnya dari ikatan kepentingan-kepentingan yang tertanam. Hal ini tentu karena mahasiswa masih belum termasuk dalam susunan mapan masyarakat. Dengan adanya kebebasan relatif ini, mahasiswa dimungkinkan untuk melakukan tindakan-tindakan, mengeluarkan gagasan-gagasan dan mengadakan penilaian yang tidak memihak[3]. Kpmdb yang terdiri kaum terpelajar harus memenuhi suatu tanggung jawab sosial terhadap daerahnya yaitu brebes, dengan berusaha memiliki kepekaan sosial yang semakin meningkat terhadap daerahnya, mengenali problem-problem dalam daerahnya, dan adanya ikatan jiwa atau komitmen untuk mencari jalan pemecahanya, menemukan identitas daerah dan menjaganya atau melakukan inovasi-inovasi sesuai perkembangan zaman disertai dengan nilai-nilai kedaerahan yang universal. Hal ini adalah fitrah ketiga KPMDB, spirit kedaerahan.

Tiga (3) Kontruksi dasar KPMDB, kekeluargaan, keterpelajaran dan kedaerahan adalah komposisi kesatuan utuh yang tidak berdiri sendiri antara yang satu dengan yang lainya. Hal inilah bekal dasar sekaligus arah dalam ber-KPMBD, ketegasan dalam berjalan sesuai fitah berdirinya perlu ditegaskan kembali barangkali dalam forum formal atau obrolan di warung kopi. Pergerakan yang didasarkan atas kekeluargaan, keterpelajaran dan kedaerahan mengantarkan pada aksi tertinggi yaitu aksi bertujuan, sudah barang tentu tujuan KPMDB sebagaimana dalam pasal 7 Anggaran dasar yaitu[4]:

  1. Mempersiapkan kader-kader intelektual, yang bertanggung jawab dan berperan dalam kemajuan pembangunan daerah.
  2. Meningkatkan dan mempererat rasa kekeluargaan dalam menuju kedewasaan berfikir.
  3. Menjalin keselarasan hubungan atau pelayanan terhadap masyarakat secara aktif melalui kegiatan yang terarah dan kreatif dalam pelaksanaan pengalaman ilmu.
  4. Ikut berperan serta aktif dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan cita-cita Bangsa dan Negara Indonesia.

Arah dan tujuan KPMDB bukanlah usaha untuk bergerak diluar koridor kebangsaan atau meningkatkan sentimenterhadap daerah lain atau menyatakan diri paling tinggi diatas daerah lain, melainkan ikhtiar dalam ber-bhineka tunggal ika, mewujudkan bangsa dan negara yang maju, beradab dan berbudaya. Sebagaimana kata salah satu pendiri organisasi kebangsaan sekar reokeon (organisasi kebangsaan sunda, jong sunda-jawa barat) yang kurang lebihnya penyampaikan bahwa Bukankah Dengan Terbentuknya Organisasi Kebangsaan akan Meringankan Beban Nusantara, Sebab Ada Perkumpulan Yang Intens Menyadrakan Masyarakatnya Masing-Masing?[5]


[1] Soerjono s. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : CV. Rajawali. Hal 37

[2] Nurcholis, M.1993. Islam,Kerakyatan, dan Keindonesiaan. Bandung : Penerbit Mizan

[3] Ibid

[4] Hasil-hasil MUNAS KPMDB 2012

[5] Shadikin,S.2008.Napak Tilas Organisasi Kebangsaan. Malang : dari sebuah Catatan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s