Menakar Demokrasi Kita

Demokrasi kita karya mohammad hatta berbicara banyak mengenai pikiran-pikiran tentang bangunan kebangsaan, kerakyataan, dan mekanisme kenegaraan dengan karakter khas indonesia awal-awal. Konsep negara dan demokrasi ala hatta yang berawal dari perjuangan bangsa indonesia, Tentu tidak serta merta rumusan hatta atas indonesia datang begitu saja, benturannya atas realitas masa kolonialisme, kesejarahan hindia belanda dan dunia, serta pengalamanya menempuh pendidikan di belanda dengan banyak bersentuhan dengan pemikir-pemikir barat mengenai (kebangsaan, kerakyataan, kemerdekaan, negara, demokrasi, politik, ekonomi) adalah turut hadir mempengaruhinya.
Kedaulatan rakyat bukanlah gambaran serta merta berkendak berbuat bagi dirinya sendiri (rakyat) atas nama golongan, ras, suku dengan standar keadilan dan kebenaran didalamnya. Indonesia dalam wilayah yang membentang luas, sekiranya tentang kedaulatan rakyat yang sebenarnya adalah kewajiban pemangku negara untuk memberikan pengertian atasnya. Rakyat kita sebagian besar masih tetap hidup dalam perikatan desanya dan soal yang hidup dalam kalbunya ialah soal kepentingan hidupnya bersama di dalam desanya. Maka, semangat kedaulatan rakyat seluruh negara belum dapat terinsyafi dan merasuk dalam sanubari rakyat oleh rakyat, adalah hal yang perlu dilakukan bagi kita adalah mendidik dan menginsyafi dan atau memahami kedaulatan rakyat, dengan keyakinan bahwa kedaulatan rakyat merupakan kebenaran dan kebaikan dasar bagi indonesia untuk menuju kemualian dan kemakmuran rakyat.
Kebangsaan dan kerakyataan adalah dua hal tak terpisahkan, tesis mengenai kedua hal tersebut yang menyatakan tidak relevan karena sekarang zaman sudah berada pada suasana menjunjung tinggi internasionalisme dan bukti bahwa demokrasi telah berujung pada kediktaktoran. Bukankah internasionlisme terdiri dari bangsa – bangsa dunia, berbicara lantang tentang semangat internasional oleh bangsa yang belum merdeka adalah kontradiksi. Kemerdekaan harusnya bersifat kebangsaan terlebih dahulu, menyempurnakan lebih dulu indiviualistis atau zaman kemanusiaan sendiri, menyempurnakan bangsa sendiri karena membangunkan semangat kebangsaan pada bangsa yang tidak merdeka artinya membangunkan kemanusiaanya, modal bagi suatu bangsa dalam pergaulan internasional, supaya sama –  sama dihargai dan mempunyai kemuliaan. Namun kebangsaan ada rupanya sendiri, menurut golongan yang memajukanya. Ada kebangsaan rupa ningrat, rupa intelek dan ada pula rupa rakyat, rupa ningrat merupakan ukuran standar menyoal bangsa, permasalahan dan keadaan bangsa terikat pada golongan ningrat, gambaran dan narasi bangsa hanya dari golongan ningrat saja tidak pada bangsa seluruhnya. Sama halnya dengan rupa kebangsaan intelek, memandang bahwa rakyat tidak punya cukup waktu memikirkan dan membicarakan tentang bangsa, urusan bangsa diserahkan pada golongan cerdik pandai, rakyat tidak mampu untuk menyuarakan urusan negeri, mereka hanya mengikuti apa kata cerdik pandai.

Kerakyataan mendasar dari kedaulatan ada pada rakyat, dan rakyat harus sadar akan diri dan harga dirinya. Kehendak untuk menentukan nasibnya dan cara hidupnya dalam suatu negri ditentukan oleh dirinya ( rakyat) dengan mufakat, tidak hanya oleh kaum ningrat atau intelek saja. Dan inilah konsepsi demokrasi atau kerakyataan yang seluas – luasnya, menyentuh semuanya tidak hanya wilayah politik melainkan pula ekonomi dan sosial.
Dengan kedalaman filsafatnya, hatta mengkritik dan menolak demokrasi barat hari ini dengan kapitalistiche democratie dimana ia keluar dari moderne democratie yaitu rakyat menetukan nasibnya sendiri, disebutnya sebagai demokrasi yang pincang, yang membawa keindividualisme pada manusia dan melahirkan semangat kapitalisme, menindas manusia, memperlalukan manusia sebagai bagian dari alat produksi. Kelahiranya pada zaman pertengahan adalah bentuk perlawanan atas keotoritan gereja, sebagai empunya kebenaran, ajaran individualisme lah yang kemudian melawan feodalisme, kemunculanya diuraikan dengan sistematis dengan akarnya pada kekuasaan gereja, klaim sebagai wakil tuhan yang mengatur semuanya, hal yang bersebrangan dianggap sebagai sebuah kesalahan dan ketidaktaatan. Semangat individualisme melawan feodalisme terbukti hanya menyentuh politik dan hak sebagai warga negara, wujud revolusi prancis yang mengutamakan kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan tidak pernah tercapai, bidang ekonomi terbengkalai tidak disentuh. Dan juga karena indivualisme telah berhasil membawa pada kemerdekaan berfikir sehingga kemajuan teknologi di barat begitu pesat, diandai dengan revolusi industri yang menjadi penggerak semangat kapitalisme.
Demokrasi yang diagung – agungkan mempunyai urat pangkal pada pemutusan individualitas manusia, mempertajam jarak antara si miskin dan kaya, melebarkan wilayah penindasan manusia atas manusia karena hanya berhenti pada wilayah politik saja. Individualitas sebagai hak dasar disingkirkan oleh semangat individualiasme yang diatas dijelaskan berawal dari perlawanan terhadap dominasi kebenaran, sungguh indonesia dengan demokrasinya tidak kemudian serta merta mengambilnya secara serta merta, plek sama. Indonesia menurut hatta sudah lama menerapkan demokrasi, berumur tua berdasar pada kolektivitas dalam ruang – ruang yang masih sempit, di desa – desa dulu kala dengan aktivitas sosial ekonomi yang memakai peralatan sederhana. Namun, keadaan dunia telah berubah, pergaulan hidup sudah berbeda, tidak hanya dalam wilayah indonesia saja. Kepemikikan atas sesuatu sudah begitu kentara, sekarang zaman berubah, sudah ada kepemilikan atas tanah dan alat, pertentangan si pemilik alat dan pekerja sudah menjadi masalah. Maka demokrasi indonesia harus juga berurat pada khasnya dulu yang menjelma atau berabdaptasi dalam perkembangan zaman, semangat kolektivitas dan pemerataan ekomoni serta mengutuk kejahatan dalam bentuk ekploitasi manusia atas manusia.

Bahan Diskusi Mingguan Lingkar Study KITA
Di ambil dari buku demokrasi kita, mohammad hatta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s