Manusia dan Teknologi

Dinamika kesejarahan manusia tertulis banyak telah mengalami berbagai metamorfosis dalam semua aspek kehidupan, spirit menginginkan perubahan tidak bisa ditanggalkan. Hidup dibelantara alam yang membentang luas nan indah mengantarkan kepada proses mempertanyakan, titik awal manusia dalam melewati “lorong waktu dan angka”, jalan menuju ke-akuan yang beraneka ragam bentuknya. Hari ini bisa kita lihat, berbagai macam jenis manusia – manusia pemenang dari perlombaan yang telah alam selenggarakan dulu, perlombaan yang disebut para ilmuwan “seleksi alam”, mengamini ataupun tidak, tesis tersebut kenyataanya sekarang banyak dibuktikan oleh adanya lembaran – lembaran yang ditinggalkan manusia, bahwa terdapat spink di mesir, kuil – kuil megah dan patung – patung besar simbol kepahlawanan di yunani, tembok raksasa di cina, benda-benda dari bebatuan yang disimpen di museum-museum purba, perahu besar Nuh yang sanggup menghadang banjir besar dalam sejarah umat manusia dan lembaran lainya yang kemudian dijadikan sebagai warisan dunia. Hal tersebut menunjukan bahwa manusia merupakan pembawa pesan, pengubah alam dan pengembara nan tangguh atau bisa kita sebut sebagai pencipta. Makhluk  yang dari zaman ke zaman berhasil “mengolah sesuatu yang ada diluarnya”, dari sederhana menjadi kompleks dan turut mempengaruhi pengalamannya, mempermudah kehidupannya, dalam bahasa kita hari diartikan sebagai teknologi.
Era informasi terjadi tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang begitu pesat, teknologi seolah menjadi tonggak kemajuan manusia, penisbatan kepada teknologi melahirkan cara pandang baru dalam ruang privat maupun publik. Orang menjadi keren, berpengetahuan, dan kekinian ketika dia berhasil memiliki teknologi terbaru dan mengoprasikannya, negara dianggap modern dan maju ketika berhasil mengembangkan dan menciptakan teknologi jenis baru atau banyak berdiri – berdiri industri besar berbasis teknologi canggih. Teknologi menjadi indikator kemajuan berbagai bidang seperti ekonomi, soial, politik dan budaya karena kenyataannya semua dianggap saling terhubung atas teknologi, ketika tidak berteknologi maka tertinggallah. Maka berteknologi adalah keinginan menjadi modern dan maju. Pandangan tersebut memang tidak keliru, tapi menyusuri lebih mendalam, banyak ditemukan berbagai kontradiksi didalam kehidupan manusia, usaha berteknologi sebagai upaya menjadi maju melahirkan banyak malapetaka baru, seperti hilangnya hutan didunia untuk memenuhi kebutuhan akan besi, minyak, timah, emas dan lain sebagainya, tercemarnya sungai – sungai, terlahirnya masyarakat individualis, tercerabutnya hubungan manusia bersama alam dan munculnya penyakit sosial dan psikologis baru dalam masyarakat.
Pandangan antropologis yang menempatkan teknologi sebagai salah satu unsur kebudayaan, merupakan awalan untuk mempermudah memunculkan dugaan sementara tentang teknologi, membentangkannya sebagai kelanjutan cerita umat amanusia. Begini ceritanya, wajah “kebudayaan” (peradabaan) dapat dikenali dengan menelusuri narasi tentang manusia, aktor utama dalam drama tersebut. Manusia sebagai empunya “akal”, pandai dalam merubah wajah – wajah kehidupan, dalam banyak catatan telah disebutkan bahwa wajah pertamanya adalah agraris, kehidupan yang masih mengandalkan hubungan bersama alam lebih intim, mengolah tanah adalah bentuk kemenyatuaanya kepada alam seperti memahami musim dengan merasakan hembusan angin dan memandang langit – langit untuk menemukan letak komunitas ikan dilautan. Kedua, wajah industri, merupakan wajah yang kemunculanya dimulai ketika ditemukaanya mesin uap, ditandai kehausan untuk selalu berubah, melaju terus menerus, rutinitas kehidupan dilakukan oleh mesin, hubungannya dimediasi olehnya, akhirnya komunikasinya bersama alam merenggang dan mengecil. Keinginan berubahnya mengaburkan, sudut – sudut kehidupan masa lampau dan masa depan sebagian tidak dihiraukan. Ketiga, wajah informasi, kelahirannya ditandai dengan penemuanya atas komputer. Perubahan juga masih menjadi primadona dalam skala yang lebih cepat, barangkali bisa disamakan dengan kecepatan cahaya. Keterbukaan juga menjadi salah satu dari tandanya, terbuka kepada sumber informasi bukan hanya melokal bahkan medunia, keterbukaan dan percepatan ini melahirkan banyak keaneka macaman pandangan, pilihan, hubungan, gambar, dan citra. Satu hal dalam wajah terakhir adalah keterputusan dengan kenyataan. Lalu apa sebenarnya teknolgi? Bagimana hubungan teknologi dengan manusia? bagaimana peran teknologi dalam merubah wajah manusia?

Mengurai Teknologi
Membicarakan mengenai teknologi akan terbayang mengenai suatu kekerenan dan keluarbiasaan pada ruang – ruang nan megah, mesin – mesin raksasa sampai kecil yang seakan bicara, mengalahkahan keagungan cerita 1001 malam, mahabarata dan dongeng – dongeng nusantara, karena ada semacam deretan angka yang termaterialkan di dalamnya sebagai penggerak, berbicara dan memastikan semuanya baik – baik saja seolah tanpa retakan sedikitpun. Teknologi seakan menciptkan kelas sosial baru dalam kehidupan sosial manusia yang melahirkan begitu banyak fakta – fakta sosial yang dapat kita jelaskan dengan menggunkan narasi bebas tanpa perlu bersusah payah mendekati bahkan berguru kepada para positivisme, karena sangat dekat dan tidak bisa terlepas dari manusia, sejarah manusia adalah sejarah teknologi itu sendiri kiranya.
Dalam khasanah yunani, teknologi didekatkan menggunakan kata “techne” yaitu keterampilan menciptakan karya seni, pemaknaanya lebih kepada terma keindahan, maka tidak heran ketika yunani dihiasi kuil – kuil megah dan patung – patung raksasa, namun hal tersebut tidaklah yang diagungkan dan diarus utamakan, beku dan tidak berkembang karena disudut – sudut kota, taman dan rumah – rumah yunani dihiasi dengan cerita – cerita platonis (filsafat/teori – teori ideal). Teknologi menjadi perdebatan banyak para pemikir, karena kemunculan atau letaknya, ada yang beranggapan bahwa teknologi berasal dari sains, adapula yang mengatakan bahwa teknologi merupakan sains itu sendiri yang menubuh, hal ini menjadi menarik karena menyangkut eksistensi sains, keramaian tersebut muncul ketika eropa mengalami revolusi industri yang tidak disukai oleh para luddite alami, aspek akademis tak ada hubunganya dengan revolusi industri, pemikiran apau pun tentang industri abad sembilan belas, akan tertuju kepada pekerja – pekerja cekatan. Ahli sains murni dan insinyur dalam perilaku cenderung sangat berbeda: insinyur harus hidup dalam komunitas terorganisir, dan bagaimanapun anehnya mereka dibalik itu, mereka mampu menghadirkan wajah yang berdisiplin kepada dunia. Ahli sains murni tidaklah seperti itu. Dengan cara yang sama , mereka masih, walaupun kurang dari dua puluh tahun lalu, memiliki proporsi statistik yang lebih tinggi dalam politik baik kubu kiri maupun tengah, tidak seperti insinyur, yang hampir menjadi seorang konservatif. Tidak reaksioner atau secara harfiah ekstrem, hanya konservatif. Para insinyur hanya terfokus hanya dalam membuat benda-benda. Perkembangan dan perbincangan teknologi lebih intim semenjak revolusi industri memberikan gambaran berbagai hal seperti kekakuan dan kelenturan, materi non materi, teori praksis, akademis non akademis, pemikir pekerja. Ada semacam kemunculan aneka pemisahan ketika kita berbincang atau menelusuri teknologi.
Teknologi tetaplah teknologi, ia sebagai perpanjangan tangan manusia, melekat pada manusia, karena ia makhluk teknologi, makhluk yang sejarah hidupnya adalah sejarah teknologi. Menempatkan teknologi sebagai teknologi, adalah upaya mempersempit asumsi – asumsi pertentangan atau pemisahan antara manusia satu dengan manusia lain, kelompok manusia satu dengan kelompok manusia lain. Manusia Menteknologikan teknologi sama halnya Manusia memanusiakan manusia, memanusiakan teknologi berarti menjeburkan diri dalam lembah penindasan atas ciptaan. Teknologi tetaplah teknologi, kita yang merubahnya. Ubahlah sesuai fitrahnya, petiklah manfaatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s