Rumah Himpunan

Ada halaman depan, ruang tengah, ruang belakang, kamar-kamar, dapur dan ruang tamu. Setidaknya itu lah gambaran mengenai rumah, bangunan dengan penghuni terkadang terdiri dari ibu, bapak, dan anak. Interaksi, tumbuh kembang bersama, berbagi kasih sayang ada didalamnya. Semua manusia pasti berumah, mempunyai bahan untuk menceritakan tentanya. Manusia mana yang tidak bisa bercerita soal rumah. Kehidupan manusia adalah cerita didalam rumah, membayangkan rumah berarti menempatkan kita didalamnya. Oleh karena itu, rumah adalah kita sebagaimana adanya.
Himpunan adalah senyawa dengan berbagi unsur didalamnya, untuk meny-enyawakan suatu unsur maka dibutuhkan tempat. Dalam hal ini, kita sebut dengan rumah himpunan, tempat dengan aneka macam unsur melebur, menyatukan diri, mengada, dan terus menjadi.
Cerita tentang rumah himpunan bukanlah cerita tentang halaman depan, ruang tengah, dan belakang. Bukan pula cerita tentang seorang hubungan ibu, bapak dan anak apalagi membayangkan bangunan dengan kelengkapan sarana prasana fisik beserta aktifitis dari pagi hingga malam yang selalu berulang.
Rumah himpunam semacam keabsurdan dan platonik tapi mengada dan terus menjadi, tiada keterputusan dan tidak pula memfisik, tahan akan penggusuran atas nama ruang hijau atau penertiban supaya kelihatan rapi nan indah bahkan serbuan para investor maupun pengusaha dalam perluasan kawasan produksi konsumsi.
Dia berdiaspora, nomaden, dan membelah diri. Tidak ada pembagian peran layaknya pertunjukan drama untuk mencipta keapikan sandiwara, apalagi skenario, alur, plot dan lain-lain. Karena disana tiada unsur penonton, pemeran, dan setting cerita. Semuanya melebur, tiada konsep klasifikasi aristotelian apalagi kelas menurut marxian.
Maka tiada bisa kembali ketika memasuki rumah himpunan, karena disanalah pergi dan pulang.
Maka tiada cinta, karena disanalah perpisahan dan penyatuan.
Maka tiada rasa, karena disanalah bahagia dan sedih.
Maka tiada dominasi, karena disanalah atas dan bawah.
Lalu macam apakah rumah itu?
Rumah himpunan?
Ia rumah dengan kesesuaian fitrah, penuh tanda tanya, tanda dari semua penghuninya. Tanpanya tak akan masuk dan menghuninya, abadi didalamnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s