Renungan Malam Komisariat

Kopi

Adalah sebuah minuman

Kopi, sebuah minuman

Rasanya pahit dan manis dikasih gula

Seperti kehidupan ku

Kopi, mengapa engkau beguti

Kau persis yang aku alami

Kenapa ada pahit dan manis

Apakah ini yang yang disebut takdir

Oh tuhan, kau buat aku seperti kopi

Kau kejam, kau tak adil bagiku

Kau tak adil, kau buat aku seperti kopi

Apakah ini hukuman untuk ku?

Sampai kapan, jawablah

Jika kau memang ada, tuhan

Sampai kapan, aku seperti ini jadi hambamu

Kau pencipta atas semuanya

Kau yang mempermainkan drama hidupku

Kenapa aku berbatuk, apa ini hukuman untuk ku

Apakah hidupku akan seperti ini terus

Seperti kopi, seperti kopi

Inikah skenario mu yang sempurna...

Abdur rahman

Kertasura, 09 April 2016

Percepatan dan kemajuan

Dunia bergerak terlalu cepat

Waktu dan zaman silih berganti

Dunia terus berubah

Cinta terus berubah

Pribadi terus berubah

Lalu, siapa yang akan bertahan

Didunia yang penuh kepastian dan keraguan

Maka siapa yang tak yakin dan berubah ia akan mati

Kepada pribadi – pribadi yang tak berinovasi

Ingin lakukan perubahan

Akan ketinggalan zaman

Melawan penindasan yang terus dan terus berkembang

Jika kita tak mengerti apa yang diperjuangankan

Lalu?

Untuk apa kita bergerak

Untuk apa kita berubah

Bodoh, dungu, ia tetap mempertahankan status quo

Mati,punah,dan terbelakang

Venus srawara Mahardika

Kertasura, 09 april 2016

Rembulan

Rembulan, kau pancarkan sinar kuning

Warna terangi langit

Kau hilang tanpa makna

Seakan penuh makna

Namun penuh makna

Manusia tak sadar dengan dunia

Karena manusia belum puas akan pengetahuan

Dan manusia hanya tahu

Bahwa dirinya bukan manusia

Apa itu manusia?

Lalu siapa manusia?

Hanya manusia yang bisa menjawabnya.

Irfan prasetyo

Kertasura, 09 April 2016

Bingung

Silih berganti saling serabut

Asbak, korek, rokok, asap

Langit menghitam mencekam

Tersingkap lampu temaram

Kabut penuh skat

Hembusan napas bak dentuman

Tertancap di telinga – telinga gedung menjulang

Kata bergulir tanpa jeda,

Tulisan menyatu tanpa tanda,

Kita bercerita di keramaian

Tanpa tahu pendengar dan pembicara

Apalagi gerak gerik dan mimik

Tubuh kehilangan kemenubuhanya

Percakapan kita tak bergaung apa – apa

Berbicara menyeruak ke akar

Salah tempat, berbisik lelucon lanjutan

Gemricik detik lukisan ruang sunyi

Habis kata tak berbuah

Habis suara tak berwarna

Selesai, titik tertinggal di saku

Hamdan Wijaya

Kertasura, 09 April 2016
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s