Menjadi Kota

Lebaran kita temukan keramaian di kampung dan kota – kota, peristiwa melepas rindu, berbagi pengalaman kerja dari kota dibagi cuma – cuma kepada sanak family ataupun saudara dan akhirnya mengajak mengikuti jejak mengukir cerita dikota dengan fantasi keriuhan dan kemudahan mendapat akses kerja. Mudik menjadi semacam promosi sekaligus rekutmen penghuni kota secara sukarela oleh orang – orang desa yang sudah lama ke kota karena pengalaman hidup di kota penuh dengan keindahan dan kemudahan menumpuk kekayaan, jarang diceritakan kesukaran dan proses menjadi kota. Antusiasme orang – orang desa menuju kota begitu tinggi, berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan seharusnya.

Berbincang mengenai kota adalah mengurai kemunculanya dalam sejarah beserta perkembanganya, kota dengan atribut perindustirian dan perdagangan pernah dipaparkan oleh kuntowijoyo dalam skripsinya yang kemudian menjadi buku berjudul Peran Borjuasi Dalam Transformasi Eropa, disana diterangkan bahwa kota mulai tersemat identitasnya pada abad ke 10 karena eropa tengah mengalami kekacauan yang melahirkan serpihan – serpihan kerajaan beserta pertahanannya berupa pendirian benteng – benteng untuk melindungi tanah dan rakyat oleh para pangeran. Hal ini bertujuan agar para pengeran tetap menjadi pangeran dan menetapkan tanah sebagai hak milik yang bisa diwariskan turun temurun. Di sekitaran benteng lama kelamaan ramai dengan aktifitas manusia dan berdiri banyak tempat tinggal, orang – orang disekitar benteng disebut penduduk benteng, dalam bahasa jerman benteng yaitu burgus dan penguninya dengan bourgeois, keramaian benteng disebabkan oleh aktifitas ekonomi (perdagangan). Perubahan masyarakat dari tani menjadi pedagang, dari pedagang desa menjadi pedagang berkelana yang menghuni pinggiran benteng banyak diterangkan dalam kajian sosial disebabkan oleh doktrin agama yahudi yang bebas sebagaimana kristen dengan pelarangan perdagangan dan riba karena menjunjung tinggi kejujuran dan kasih sayang, dan juga ada suprlus hasil tanah yang mau tak mau harus ditukar ataupun dijual. Kota dan desa menjadi berbeda dengan peruntukannya yaitu tanah dan pasar, bertani dan berdagang/berindustri, benteng/pertahanan dan tidak. Sering mendengar term borjuis, bahwa itu tidak terlepas dari kemunculan kota.

World bank merilis sebuah artikel yang menunjukan bahwa pertumbuhan kota indonesia rata – rata 4,1% pertahun dan pada tahun 2025 diperkirakan 68% penduduk indonesia adalah warga kota. Sungguh luar biasa bukan, kurang dari 50% yang tersisa di desa, belum tahu atas alasan apa yang tertinggal masih bertahan. Apakah ini mengenai kesadaran diri akan kemampuannya, ataukah desa memberikan kehidupan yang bahagia sehingga mereka mau bertahan barangkali sampai ingin membangun? Keramaian menuju kota laksana kerajaan majapahit yang maritim menuju ke pedalaman, meninggalkan laut. Kenapa seperti itu? Kalau memakai perbedaan desa dan kota adalah perihal bertani (tanah) dan berdagang (kota). Disambung prediksi dunia mengatakan krisis besar dunia yang akan terjadi mengenai pangan dan energi, maka sudah seharusnya kesadaran tetap tinggal di desa menjadi penting dan perlu untuk diupayakan. Memperkuat penduduk desa berarti menyiapkan lumbung pangan masa depan. perkara lahan, benih, pupuk, dan pengairan soal bagaimana kebijakan daerah dan pusat bersesuaian dan berkomitmen tidak mengenai pembangunan yang ramah lingkungan dan mengakomodir kebutuhan masa depan. Toh sekarang kementrian desa punya program pembangunan dan pengembangan desa dengan adanya dana desa. ini laksana sekali mendayung 2 atau 3 pulau terlampaui. Integrasi peran kementrian, menekan laju urbanisasi, menyiapkan lumbung pangan dan juga menyimbangkan ekosistem desa dan kota. Data yang ada dari world bank juga menyebutkan bahwa ternyata infrastruktur kota belum cukup memadai, hal ini mengakibatkan jurang kemiskinan semakin lebar diikuti kesehatan yang buruk dikarenakan ternyata hanya 48% rumah tangga yang menikmati air bersih, fasilitas air bersih hanya ada di 11 dari 98 kota, 2% yang terhubung dengan sanitasi pusat dan lahan diperkotaan untuk tiap orang kurang dari 40 meter persegi.

Sungguh meng-iuh-kan tinggal kota. Seabreg kenestapaanya membuat kita lupa dan tidak takut untuk menuju kota (mengada). Kota yang identik dengan kemajuan, serba ada, canggih, dan gedung – gedung mewah menjulang ke-angkasa, menutup mata dan nalar sehat kita. Ciri yang dimiliki kota adalah suatu yang lahir dari kesadaran berfikir secara rasional, pasti dan terukur. Syarat akan ke-material-an dan perkembangan atau bisa kita sebut sebagai ekosistem yang baik bagi peradaban tumbuh. Will durant pernah bekata bahwa peradaban bermula di gubuk petani tapi ia tidak berkembang kecuali di kota-kota. Desa dengan keasrian lingkungan hidupnya, kental kolektivitasnya dan hiruk pikuk kecuali yang berasal dari alam seperti gemericik air, semilir angin dan kicauan burung merupakan medium mengasah intuitif, penghasil nilai-nilai. Desa dan kota adalah dua ekosistem dari satu ekosistem. Kesatuan yang saling bersinergi dan bersimbiosis mutualisme secara setara. Bukankah menjadi kota adalah sama dengan menjadi desa. Apa mau kita paksa semuanya menuju dan menggantikan desa menjadi (bentuk) kota? Lantas siapkah kita menemui kepunahan?.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s