BAPER = OBJEKTIFIKASI DIRI

Hilir mudik informasi tak pernah absen dalam kehidupan kita sehari – hari, media massa mainstream terus menerus menggelontorkan aneka macam kabar tanpa celah, kehadirannya layaknya dua sisi dalam satu koin mata uang. Menerima begitu saja lalu digantikan dengan yang baru (sekedar lewat) atau menangkap lalu menalaah secara mendalam dengan menyortir yang dianggap aktual dan faktual. Dua hal tersebut setidaknya telah dilakukan kita semua, pertama yaitu kebiasaan menerima dan membiarkan, meninggalkan jejak – jejak yang terkadang tidak penting, lama – kelamaan terakumulasi menjadi pengetahuan sampingan atau belum jelas basis pengetahuannya, yang memunculkan pertanyaan untuk apa? Lahirlah kebimbangan ataupun kecemasan dalam menghadapi masa depan. Sebab dari itu adalah kepasifan subjek, kesadaran diri yang terlambat ataupun tidak sama sekali sadar sebagai makhluk informasi ataupun pengetahuan. Ketidakinginan mempertanyakan, membiarkan dirinya menjadi bank informasi yang tiada tahu apa dan untuk apa?. Kedua yaitu menangkap dan menelaah, menerima dengan penuh kesadaran merupakan bentuk sedari awal  kesiapan mempertanyakan, menyimpan, dan menggunkan karena keaktifan subjek memainkan peran sebagai  penerima sekaligus penyimpan setia segala bentuk informasi dan pengetahuan.

Sampah informasi ramai akhir-akhir ini dibicarakan, sebagai bentuk yang tidak bisa didaur, menempati posisi raja dari berbagai raja sampah. Perihal informasi dan pengetahuan sudah lama berteman dengan manusia, ketika semua menjadi tak tahu apa – apa dari banyak apa yang diketahui seolah sudah bukan menjadi kebutuhan lagi bagi semuanya tentang aku yang tahu. Pengetahuan menjadikan terang atas segala sesuatu akan tetapi menjelma menjadi duri kehidupan, banyaknya aktivitas kekecewaan yang dipertontonkan, emosi yang meledak – ledak di ruang publik dan keputusaan hidup yang ditandai dengan keinginan untuk dikasihi, diberikan jempol dan apresiasi yang bukan pada tempatnya. Ingin selalu didengar dan dibicarakan, ingin selalu berada di kerumunan penuh sorak – sorak kebanggan dan begitu mudahnya berganti wajah dari murung ke bahagia dalam sekejap mata. Masihkah kata tahu dekat dengan kebahagian dan kebijaksaan sebagaimana sokrates pernah katakan atau sebenarnya belum sampai kita pada tahu.

Pengetahuan dalam pengertian filsafat disebutkan adalah penyatuan subjek dengan objek atau proses kemanunggalan, keterleburan satu sama lain dalam misteri kehidupan yang tak berkesudahan. Akhirnya memunculkan kebijaksaan lalu kebahagian, dengan tergeraknya lisan menyusun “saya tahu bahwa saya tidak tahu”. Peristiwa keterleburan tentu susah dijelaskan dengan angka – angka atau kalimat ekposisi yang menginginkan pengakuan dari si pembaca. lantas bagaimana kita membanyangkanya? Mencari jawaban untuk menguak cara membayangkan keterleburan tanpa tahu sebab yang memuncukan tentu merupakan kesia – sian yang sama saja terjadi kepada kita selama ini. Jalannya adalah kembali kepada perkara sampah informasi dan pengetahuan, dari mana datangnya?

 Sebagaimana diatas, subjek dan objek menyatu (lebur) merupakan padanan dari pengetahuan. maka ada 2 kemungkinan, pertama kita menjadi objek atau mengalami objektifikasi dengan kata lain objek menjadi subjek, terjadi pertukaran. Kedua kita kehilangan objek atau objek menjadi subjek yang vis a vis dengan kita. Objektivikasi adalah dehumanisasi sebagaimana kuntowijoyo terangkan, peristiwa subjek kehilangan kesubjekanya karena jauhnya kesadaran atau bahkan telah hilang. Penyebab dari itu semua adalah peletakan semua bidang kehidupan yang tidak proposional, semuanya menjadi komoditas kemudian diberhalakan atau pemberhalaan komoditas. Akhirnya hanya rangsangan – tanggapan dan melupakan nilai guna mengagungkan nilai tukar, efisiensi menjadi habitus subjek yang mulanya adalah milik objek. Ada proses pelupaan, bahwa objek hanyalah medium bukan tempat terakhir pencariaan kita. Dalam hal ini agaknya plato benar bahwa inderawi/materi menipu. Kita kehilangan ruang permenungan dan aspek intelektual (rasionalitas), yang di isi oleh aspek emosional akibat kedekatan – kedekatan yang dibangun atas keinginan memeluk. Kedua, pertempuran subjek dengan subjek sebenarnya kelanjutan dari kemungkinan pertama yang terjadi karena berlangsung lama, objek terdorong untuk melepaskan diri (menjadi subjek) melalui penjelmaanya menjadi keasyikan, keindahan dan kenikmatan. Maka bagaimana seharusnya kita bersikap?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s