KELAS OH KELAS

diskusi-kelompok-580x378
kelompok belajar (blog.unnes.ac.id/vivinasafirda)

Beberapa waktu lalu saya ditawari untuk bergabung dalam suatu kelas oleh seorang kawan sekaligus adik saya dalam organisasi mahasiswa ektra kampus yang disebut HMI. kelas yang akan diadakan ketika libur kuliah. Kelas yang tidak seperti di sekolah, ada unsur murid, guru, kursi dan bangku – bangku. Kelas yang masih berisi 2 orang peminat sewaktu tawaran dilayangkan kepada saya. dia salah satu dari peminat didalamanya, peminat sekaligus penyelenggara. Kelas yang aneh. Kelas yang masih belum saya putuskan untuk memasukinya. kelas yang akan berisi tokoh – tokoh filsafat kenamaan dari barat. Kelas yang hanya mebutuhkan 2 buku saja, buku sejarah filsafat barat karya betrand russel dan buku tulis yang akan menjadi buku besar (penuh coret – coretan rangkuman maksudnya) nantinya (entah kapan waktunya). Barulah ketika penawaran kedua dilayangkan, saya memutuskan untuk masuk. Kelas yang sampai saat ini sudah sekitar 6 pertemuan dengan peminat yang cukup banyak, 10 orang lebih  kalau dari daftar yang tertulis. Lagi – lagi, apa yang tertulis tidak sama dengan kenyataanya.

 

Kelas kini berjalan, saya didalamnya. Sampai sekarang ini, belum pernah berisi 10 orang setiap pertemuannya. malah hampir mau 2 orang saja, untungnya ditengah – tengah menyusul satu jadi lumayan lah, 3 orang, kehadiran yang satu, menenangkan. Karena seketika itu banyak sekali intimidasi dari imajinasi saya, ini sedang dalam kelas atau kencan. Pikir saya kemana – mana, meyusun konsep kencan tidak pada umumnya. “Kencan atas nama filsafat, begitu elegan. Ini sejenis portotype kencan terhormat, kencan ala intelektual. Curhatannya dikemas melalui bahasa – bahasa langit para filosof kenamaan, ejekannya penuh dengan embel – embel rasional dan logis. Rayuanya berasal dari puisi para filsuf. Ternyata dulu filsuf menulis gagasanya lewat puisi nan indah. Tapi konsep kencan tersebut hilang seketika, menjadi kelas. kembali ke semula. Untung saja belum sampai ke konsep pelaminan yang terhormat.

Kelas kembang kempis, setiap pertemuannya, kalau repot – repot memakai grafik menunjukan posisi garis ke bawah. Terbengkalai, peminat kelas filsafat sibuk dengan serangkaian rutinitas lain. Kontradiksi terjadi disini, kelas yang mengutamakan minat, tentu berangkat dari kesadaran –ingin- karena sebelumnya telah melewati proses kurang yang memunculkan “harus dalam diri” menjadi “harus oleh ruang”. Minat tidak lagi muncul, tergantikan oleh kehadiran kelas (para peminat). Disini terlihat, selalu terjadi pertempuran antar subjek (peminat) dengan kelas ketika subjek terlepas dari kesadaran inginnya. maka perlawanan atas kelas adalah perlawanan menjadi diri, kembali ke awal, peminat secara alamiah merecovery dirinya, menjalankan fungsinya. yah, semacam konsep organisme memperbaiki diri, mempercepat produksi karena organ satu dengan organ yang lain menempatkan dirinya.

Kini masih terus berjalan kelas namun tidak disangka pertemuan terjadi yang belum jauh dari minggu ini hanya di hadiri oleh dua peminat saja. Tapi bayangan kelas yang terganti kencan tidak me-nyata, bayangan hanya bayangan. Kelas tetap menjadi kelas, ketika terdiri lebih dari satu peminat. Belum ada pertemuan selanjutnya, kelas dalam ketidakpastian karena tidak cukup kuat melakukan penekanan. Kontradiksi kedua terjadi, subjek terjebak dalam kelas, namun kelas malah terjebak dalam dirinya. Keformalan, definisi dan pembayangan umum tentang kelas masih berurat. Lalu apakah urat ini akan terputus? Apakah akan masih layak penyematan kelas aneh? Kita tunggu kabar selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s