MUNIR dan INGATAN

Bulan september merupakan penanda api kemanusian

munir_said_thalib_by_arekplaur-d5mhv8s
Munir Said Thalib (Alchetron.com)

dan perlawanan kepada penindasan atas manusia yang terjadi di muka bumi terutama di indonesia bahwa masih terus dikumandangkan. Media sosial ramai dengan hiasan term kata menolak lupa, merawat ingatan dan 12 tahun munir dibunuh. Tahun 2016 ini, Acara peringatan kematian munir diselenggarakan di 12 kota besar, kasus munir bukan hanya milik suciowati dan anak-anaknya saja melainkan kasus bersama yang perlu dituntaskan, ujar karib – karib munir dalam cuitan twitter yang menghiasi twitter pekan ini.

 

Munir lahir di kota malang, jawa timur, aktivis hak asasi manusia di indonesia, mati ketika perjalanannya menuju amsterdam, belanda untuk melanjutkan study. Kematiannya sampai sekarang masih misteri, kasusnya masih belum selesai, belum diketahui siapa dalang utama atas kematiannya. Setiap tahun kematianya selalu dikenang oleh khayalak indonesia, serangkaian kegiatan dari aksi damai, diskusi sampai teaterikal menghiasinya. Peringatan kematianya mengajak semua untuk membuka catatan masa lalu tentang manusia indonesia orde baru, ketika alam demokrasi masih belum menjadi atmosfer negara bangsa indonesia. Kematianya adalah tanda. Kematianya adalah kata. Kematianya adalah bahasa. Kematianya adalah cerita. Kematianya adalah kita.

Kematian munir menambah catatan semakin panjang bahwa negara yang seharusnya melindungi segenap bangsa ternyata menarik diri dan menghadirkan diri sebagai lawan masyarakat sipil, hal ini sebagaimana diketahui bersama pengusutan kematiannya semenjak dibentuk tim pencari fakta sampai sekarang, belum ada informasi yang dibuka ke publik tentang kemajuan penyelidikanya. Padahal hari ini demokrasi pasca reformasi sudah mencapai belasan tahun ditunjang keterbukaan informasi yang begitu masif dan kesadaran negara hadir untuk rakyat seharusnya sudah matang dalam gerak zaman. Lantas kenapa bisa terjadi?

Menolak lupa dan merawat ingatan selalu menghiasai disetiap perjuangan menuntut pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh siapapun entah negara, korporat, alat negara yang digunakan korporat atau negara yang menghamba pada korporat, tak terkecuali kematian munir. Perjuangan menolak lupa dan merawat ingatan berkaitan dengan pengetahuan dan kesadaran masa lampau. Pengetahuan manusia disemai dalam catatan manusia (buku sejarah), proses menjadi catatan selalu menjadi problematika, manusia hanya dan hanya mengingat yang indah, mencatat dengan girang segala heroismenya saja, melupakan kepahitan ataupun teka – teki/misteri dalam hidupnya. Proses kesengajaan menghilangkan bagian cerita kelam sering dilakukan manusia, melemparkannya dalam cawan ketidakpastian dan ketertutupan. Membiarkan tak selesai, menolak semua bentuk perubahan kehidupan yang merugikanya. Maka cerita yang dihasilkan mementingkan dirinya, dominan subjektivitas yang disisi lain mempersempit khasanah cerita, menyumbat aliran pengetahuan manusia seluruhnya. Pengetahuan dengan sendirinya menyempit, memojok dan tak bergerak. Sisi lain kondisi manusia, alam dan hubungannya senantiasa bergerak tak terbendung. Mengalir dengan deras membasahi medan sosial, para subjek gagap ketika dibanjiri permasalahan baru. Si pembuat cerita tertawa, pengetahuan hanya menjadi miliknya. Namun, dalam kebingunan tak berkesudahan, ruangnya tak cukup mengisi, pengetahuan menekan keluar. Individu – individu yang diawal menyerap tetesan – tetesan pengetahuan dari ruang yang berlubang hasil dari tekanan dari dirinya sendiri, mengajak yang lain menangkap bersama melalui komunitas yang sporadis dan turbulen, membentuk cerita lain, menghadapkan kepadanya.

Ujar foucault, kekuasaan dan pengetahuan seperti dua sisi dalam koin mata uang, keduanya saling menunjang. Pengetahuan digunakan sebagai penopang kekuasaan. Saluran – saluran pengetahuan dikemudikan untuk melangengkan kekusaan. Sebagaimana kematian pejuang HAM, ia adalah salah satu contoh bagaimana negara memainkannya atas nama kekuasaan atas nama segelintir orang bukan atas bangsa atau rakyat negara-bangsa Indonesia. Maka dari sini penting kiranya bulan september sebagai simbol, perlawanan atas pengetahuan yang di sumbat dan dipaksakan. dibiarkan terputus, tidak ketahui para penerus bangsa selanjutnya apalagi berharap untuk dirasakan dan jiwai oleh mereka. Perjuangan menolak lupa dan merawat ingatan adalah gerak kolektif menuju ke subjek partikular berkesadaran kritis, akhirnya memunculkan perlawanan atas subjection (penyerahan diri individu).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s