HANYA UNTUK MENUNGGU

Setiap hari rasanya banyak sekali ungkapan kekesalan, sampai kutuk mengutuk dilontarkan dibelantara kehidupan. Entah, dunia bagian manapun. Selalu ada aja. Kekesalan maupun kutuk mengutuk yang berasal dari belum hadirnya sesuatu.

Kita lihat dewasa ini, hiruk pikuk pemilihan gubernur ibu kota negara sarat diwarnai dengan cemoohan, ujaran kebencian, klaim kebenaran, serang meyerang berantai dan beranak pinak secara turbulen ke berbagai sektor kehidupan sampai teritorial. Indonesia bukan hanya jakarta, apalagi kafir dan non kafir. Indonesia bukan hanya itu saja. Indonesia adalah apa yang terangkum dalam sumpah pemuda dan proklamasi kemerdekaan negara bangsa.

Belum lagi dengan kasus mirna, pencetus kopi bersianida yang sempat booming dimancanegara. Berlarut-larut, banyak pujian dimana-mana. Prosesi sidangnya banyak disebut menguras logika, baknya kelas filsafat yunani ala sokrates dialun – alun kota. Sisi lain publik geram melihatnya, tak kunjung hadir kebenaranya. Berakhir pada cemoohan dan kutukan sampai tujuh turunan.

Begitupun dengan yang lainya, dari soal reklamasi, kasus korupsi, dan kegaduhan para mentri. Semuanya serba  berakhir tragis dan penuh gugatan, emosional  yang dikedepankan. Wajah publik mencengkam, pun dengan persoalan personal. Pelepasan semua nama binatang yang terdaftar di ragunan menjadi perayaan yang tidak pernah bosan kita temui.

Rasanya pelik sekali kehidupan, dari urusan personal sampai publik begitu menyeramkan. Seolah tiada tempat bagi senyuman dan keindahan. Hal ini dikarenakan, kita selalu membutuhkan kepastian dan kebenaran pada semuanya. Belum hadirnya sesuatu mengubah wajah dan warna menjadi hitam pekat, ketika percepatan menjadi santapan tanpa diselingi kemaun untuk mengkonfirmasi apalagi merefleksi.

Belum hadirnya akan sesuatu yang pasti dan benar, sanggup menjadikan kita semakin beringas tak karuan, gugup, pucat dan mondar mandir sampai seharian. lupa seketika bahwa kita adalah makhluk yang bisa berfikir menggunkan akal. Modal untuk mengandaikan kepastian dan kebenaran sementara disela-sela belum hadirnya yang sebenarnya.

Lihat saja ilmu pasti macam fisika ataupun biologi, seragam kepastian terang-terangan dipakainya, masih saja nyatanya teori-teori selalu bermunculan dan menggantikan yang lama. Ketelitian menjadi nafas baginya, menuntut kerelaan berhari-hari untuk mengurai satu titik  yang akhirnya menjadi jawaban atas hipotesa dan melegakan untuk sementara waktu. Kesertaan rasapun disini selalu dihadirkan.

Sebenaranya, hidup adalah tentang menunggu. Kesanggupan menghadapi yang belum pasti dan benar. Menuntut jeli, teliti dan kecakapan menghadirkan rasa sekaligus akal sehat yang digunakan semestinya. Akhirnya bahagia dalam menunggu. Maka marilah melatih untuk selalu jeli, teliti dan mengingat – ingat bahwa kita makhluk me-rasa dan meng-akal sekaligus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s