Waktu Pagi

secercah cahaya kuning menginvasi secara tiba-tiba lewat jendela kamar yang terbuka tipis, sesegera mengajak meyudahi kemapanan tubuh dan mimpi di akhir, biasanya sedang berada dalam keadaan klimaks, enggan beranjak, menikmati fantasi keindahan dan kebahagian diruang yang jarang ditemui. Ini saatnya. Tapi, sikap macam apa, menghindari keharusan dunia materi. Terkalahkan oleh sekawan burung. Mereka sudah mengoceh, terbang kesana-kemari, saling berbagi lumbung padi. Mahluk apa ini aku, tidak punya malu? Terbuai kenikmatan sesat, tertutup akal sehatnya. Lupa, hari sudah pagi. Lupa, pada filosofi, rezeki nanti dipatok ayam kalau bangun kelewat dari pagi.

Bangkit, kata yang langsung meyerang secara bertubi-tubi. Maka beranjaklah aku. Menegakan badan, menyentuh benda penanda waktu, jam. Suduh pukul tujuh. Ku sedu kopi dan meraih buku di almari. Lembar per lembar ku amati, mencoba lebih kedalam lagi dan lagi. Sial malah kutemui, kata menghujam hati ini“bangun tinggi hari, sore tidur lagi, senja-senja minum teh di hadapan rumah dan melancong-lancong mengambil udara. Mereka yang demikian menyebutkan dirinya modern. Tetapi semangat modern, yang sebenarnya, semangat yang menyebabkan orang barat dapat menjadia mulia, tiada diketahui mereka sedikit jua pun. Sifat teliti, kekerasan hati, ketajaman otak, kegembiraan bekerja yang sangat mengagumkan kita pada orang barat, sekalianya itu tiada sedikit jua pun diambilnya. Kelebihan orang barat bagi mereka serupa itu ialah keindahan pakaian, rapi dan mahalnya perabot rumah, bibir dan kuku yang bercat, dan sepanjang hari berkeliaran naik auto”(Layar terkembang, h.67). sepatah kata pun tak keluar dari mulut ku, tercengang dan menjadi bloon seketika. Aku seperti sebutir debu tak menentu, hanya menempel dan tak pernah sedikitpun masuk. Lekas puas, sok modern dan kekinian. jauh dari modern. Jauh. Sangat jauh. Sebetulnya.

Aku terjebak, aku tertipu, oleh kamera. Oleh framing dan diksi. Aku belum sampai pada hakikat, maka akan selalu saja pada tergesa-gesa, mengambil hanya dari muka, reaksioner dan tidak mau terbuka. Selamanya aku akan seperti itu. Sepenggal kejadian di waktu pagi, pada satu hari. Yaitu hari ini. Bagaimana pagi di hari berikutnya, terkutuklah aku. Layakkah aku, menyandang mahkluk terhormat, berpegang budi.

Belum setengah hari, sudah ku alami goncangan tak berkesudahan. Serangan halus tahap demi tahap. Mampukah ku lewati hari. Aku menaruh kecurigaan, sedang dalam perang proksi jangan-jangan. Aku sedang dipermainkan, dijadikan boneka barbie untuk membahagiakan dan mengisi waktu luang mereka. Sejenis apa “mereka”, korporat kesepian, penguasa yang kurang perhatian, atau sutradara yang sedang berekperimen membuat film bertajuk goncangan anak manusia tak berbekal nurani. Ah, lagi-lagi aku berulah dan berulang tak menjadi modern dan gagal menangkap hakikat.

Pecundang, skeptis ku salah tempat. Tak berimbang. Penuh sangkaan keburukan. Aku mulai mengingat dan merangkai alasan. Realitas yang membuat ku seperti ini, setiap saat dijejali kabar pejabat publik melakukan korupsi. Para artis jadi panutan, dimintai pendapat soal publik. Salah tempat bukan.

Ini masih dalam pagi, aku masih saja seperti di zaman yunani dan abad pertengahan. Khayalan dan mitos menjadi argumen sahih untuk menerangkan gejala dan fenomena alam. akal dibungkam, tak boleh dirawat. Dibiarkan cepat mati. Akhirnya sikap jadi gagap. Modern hanya dalam pakaian dan hiasan-hiasan. Sebatas muka. Tak kuasa melawan karena gagal menangkap semangat.

Ah, sudahlah. Barangkali pagi besok berbeda. Jadi modern kaffah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s