CINTA DAN MENJADI MANUSIA

Perjalanan manusia tak pernah habis membicarakan cinta, dari kalangan remaja sampai kalangan tua, sesepuh dan bini sepuh. Ada banyak ragam makna ataupun pengertian cinta, hanya sebatas muka sampai sedalam samudra. Adapula yang nyinyir memandang sampai mengagungkan dan tergila-gila, dapat dilihat dari lagu soal cinta yang beredar di pasaran dari dulu hingga kini, pun dengan karya sastra dalam balutan olah kata macam syair atau puisi dan olah cerita macam cerpen, novel dan roman. Ada perkara cinta disana. Kenapa selalu cinta, ada apa dengan cinta? Ini bukan judul film berjilid yang sedang ramai dengan bintangnya dian sastro nan cantik seorang filsuf yah, karena peminatnya tidak bisa move on dari jilid pertama. Jenis makhluk apa “cinta”?

Marjinal, band dengan semangat juang dan perlawanan menantang arus utama, setia memproduksi genre musik anak muda dengan ritme keras nan mempesona bagi yang suka, liriknya terus terang, langsung diambilnya dari realitas dunia tanpa ramuan dan olahan kata yang lama untuk membawa pendengar keluar dari pengalamanya sebagai manusia. Perkara cinta, marjinal mengurai dan menceritkannya dalam lagu berjudul “cinta pembodohan”. Sebagia berikut liriknya :

Dunia punya cerita, cerita tentang cinta cinta cinte te… cinta
Pada stress dan ngga sedikt yang gila
Mati, mampus…! minum racun si rangga
Gantung diri di pohon jengkol
Nubrukin badan ke bis kota yang sedang mangkal
Lompat melompat dari gedung bertingkat
Karena cinta, demi cinta…
Hey kau kau kawan, terlihat cemen
(aih… kan kita anak gaul lagi…)
Dengernya pun lagu cengeng
membuat otak dan mental seperti kaleng rombeng
hati pun celeng-celeng, teng teng teng….
Nontonnya sinetron telenovela
Isinya hanya cinta, cinte cinte cinte teng!
Hey kau kau kawan, kan masih banyak cerita
(dunia tak selebar daun kelor)
Hey kau kau kawan, terlihat cemen
(cinta bukan dibalik kolor)
Hey kau kau kawan, terlihat cemen
(cinta itu pembodohan)
Hanyalah retorika yang menggebu-gebu berbuntut kepentingan
Kau ngomong cinta, cinta rakyat jelata
Kau ngomong cinta, agar kau berkuasa
Kau ngomong cinta, cinta umat manusia
Kau ngomong cinta, tapi engkau membunuhnya
Kau ngomong cinta, adalah anugrah
Kau ngomong cinta, kenapa ada yang luka
Kau ngomong cinta, kenapa banyak yang mati
Kau ngomong cinta, agar kau tidur dengannya
itukah cinta, itukah cinta kata kuncinya
Hey kau kau kawan sadarlah….
Dunia punya cerita, cerita tentang cinta
cinta cinta pembodohan
Bagian ke-2….. to be continue…

Cinta digambarkan oleh marjinal sebagai bentuk pembodohan tak berkesudahan, membawakan penderitaan, menjadikan kita semakin lemah dan menghilangkan akal sehat. Cinta yang ada hanyalah cinta dalam kata-kata, untuk melanggengkan kuasa dan memperpanjang penderitaan manusia. Marjinal sadar betul bahwa cinta yang disalahgunkan adalah cinta yang sering kita dengar dan terima begitu saja sehari-hari, cinta yang dijadaikan alat dengan ramuan kata-kata. Konsepsi cinta yang kita terima adalah konsepsi yang tidak murni, kita peroleh melalui berbagai macam medium seperti televisi, karya sastra, selebaran dan pidato tanpa merasa atau mengalami akhirnya muncul cerita dari diri, cinta yang disisipkan untuk membuai dan melanggengkan kuasa tanpa perlawanan sedikit jua. Cinta dijadikan sebagai bumbu abadi menyebarkan ideologi oleh orang-orang rakus untuk menumpuk kekayaan, kemenerimaan atau kepasrahan total adalah muatan utama ajarannya dan barangkali cinta seperti itu yang kita percaya dan yakini. Cinta tanpa daya yang menghilangkan pembeda manusia dengan mahkluk yang lainya. Cinta yang bermuara pada, aku rela mati untuk mu. Benarkah seperti itu? Bagaimana kita mengartikan cinta di dalam dominasi kuasa dan kapital?

“cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakan-mu-entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih, sebaiknya diikutkan disetiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan. Karena cinta adalah mengalami. Cinta tidak hanya pikiran dan  kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar teteap harmonis. Karena cinta pun hidup bukan Cuma maskot untuk disembah sujud.”(filosofi kopi bagian surat yang tak sampai, dewi lestari)

Dalam penggalan cerita diatas, dewi lestari menerangkan, cinta menghadirkan keseimbangan dan keadialan, pencinta adalah yang mengetahui sifat kemanusiaanya yaitu kehendak memilih atau kebebasanya, menjadi dirinya dan saling bekerja sama memahami dunia hal ini ditunjukan dalam kalimat“berjalanlah kalian bergandengan” dan juga cinta bukan hanya soal konsepsi yang dapat di baca dan dipahami hanya dengan melalui catatan para pendahulu (cinta tidak hanya pikiran dan kenangan) melainkan merasakan dan mengalami tanpa kehilangan kemanusian atau terjebak pada penyembahan, penyerahan total dan memperbudak diri pada simbol dan kefanaan. cinta merupakan sarana menciptkan kedamaian didalam dunia yang cair ini, juga sebagai upaya manusia untuk menemukan siapa dirinya dalam wahana yang senantiasa bergerak. Maka cinta akan selalu menjadi menarik dan tak akan pernah selesai dibicarakan, karena manusia senantiasa berubah dan bergerak setiap saat dan melupa siapa dirinya.

Cinta adalah rasio sekaligus empiris. Menyoal cinta berarti layaknya filsafat tak pernah selesai menafsirkan dunia dan  selalu mengusahakan semua epistem berjalan beriring dalam pikiran/refleksi maupun aksi (praksis). Men-cinta berarti menjadi manusia, menjadi manusia berarti menjadi selalu adil sejak dalam pikiran apalagi perbutan, saling mengangkat harkat martabat dan memutus penyerahan total sesama manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s