LANGIT HILANG MENANTI HUJAN

Langit hari ini lagi tidak biasanya, wajahnya nampak murung. Menghalang-halangi yang lain, hanya ada hitam pekat. Daftar kemurungan kini bertambah jumlahnya, di bumi dan langit. Dulu hanya hanya bumi saja. Tak seperti biasanya, yaitu langit membagikan aura kesegerannya kepada manusia-manusia yang lelah dan putus asa di muka bumi. Kepada siapa kelelahan dan keputusasaan dicurah-alihkan?

Langit sebagai penghabisan, kehilangan kebiruanya. Lukisan eksotis non empiris kedua sejoli yang dirundung cinta lenyap, tanpa meninggalkan bekas dan cerita sulit dimulai, kata-kata tertelan tiada tertinggal, kehilangan awalan. Bukanya kegaduhan sirna dan kehitaman dibumi berakhir atas cahayamu, kau murung dan terpinggirkan, kemana lagi kami mencari kisi-kisi soal ujian dibumi.

Diam, kesunyian dan kegetiran semakin menjadi jadi. Bumi sudah lama bukan lagi harapan, semenjak manusia permulaan. Tempat bagi kami berbagi kebaikan. Melangitkan bumi, sudah menjadi tugas kami. Apalagi sekarang kau berulah, komplit sudah penderitaan kami.

Kau, tempat untuk menengadah, muara memanjatkan puja puji, titik kumpul energi. Benih bagi bayang-bayang, namun kau rela dilupakan. Mendung tanda kau lelah, apalagi kami. Tidak sepantasnya kau begitu. Butuh perjalanan panjang, kita mengingat muasal. Kembali padamu, mengumpulkan bayang-bayang dan membungkusnya kesana. Kau malah begitu?

Dulu Muhammad sesudah mengunjungimu, langit. Membawakan obor dan menghijaukan tanah gersang jazirah arab sampai seluruh dunia. Bukankah cita dan mimpi berasal dari sana, dari kau, langit. Masih pantas kah kini kau, langit?

Hari ini banyak disekolah dan waktu menjelang tidur, dongeng kerajaan mu yang kekal, elok nan pesona luntur dalam tutur dan catatan harian anak-anak.  Nada mu sumbang, bercampur bersama desahan angin puting beliung. Kau terkalahkan oleh angin, buktinya kau malah murung, mendung.

Kita sudah tidak lagi punya apa-apa, kelahiran hanya menambah deretan angka kepedihan semakin panjang, lebar dan tinggi. Segitiga kesedihan di bumi membentuk sangat kentara saja. Ratusan tahun silam, ketika kau langit. Berhias lukisan setiap pagi dan bintang dimalam hari. Ibrahim gundah gulana melihat bumi penuh noda, kehitaman warnanya, bukan warna lagi karena hitam saja. Di angkatlah kemudian wajahnya, berseri dan menentang apa yang ada di bumi. Bukanya itu karena kau, mengapa kau seperti ini?

Penerus firaun, qarun dan namrud sudah lama masih ada yang tersisa, sekarang semakin banyak saja. Kau sudahlah jangan berulah, apa lagi menghilang. Campakan dan nyiyiran dari sebagian kami, lupakan saja. Masih ada sebagian yang mengharapkan mu. Kami barisan penentang mereka, masih percaya kepada mu. Kembalilah.

Tanpa kebiruan warna, awan-awan putih dari mu. Tiada lagi syair bisa kami petik, perjuangan kehilangan pemantik. Dunia kami adalah dunia kata-kata, tanpanya kami bukan siapa. Kata, kami petik dari mu, langit. Kata, kami gunakan untuk melangitkan bumi, menanggalkan kader para firauan, qarun dan namrud.

Sudahilah kesedihan mu langit, ketika dengan bersedih dan menangis kau akan kembali. Maka menangislah, turunkanlah air matamu. Jadilah hujan secepatnya, kirimkan kepastian kepada kami.

Pagi hari besok, akan ada bulir-bulir indah menggantung di pohon depan rumah. Kami menyaksikanya lewat jendela. Berjanjilah, akan ada panorama seperti itu. Lalu kami merayakan pagi, beraktivitas mengais rezeki dan kau, langit. Tak akan pernah menghilang lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s