Menunggu di Warung Kopi

warung-kopi-bergaya-modern
sumber gambar: ayousaha.co.id

Hujan beralih menampakan wujud yang anggun, ritmenya yang lembut menyapa semua manusia berwajah pucat pasi yang menguasai jalanan, melukis ketidakteraturan dan meninggalkan dengan penuh acuh jejak yang melayang-layang sehabis memakan semua rentetan prosedur berulang di gedung bertulangkan mega besi bertingkat-tingkat.

Aku masih saja menunggu disini sejak tadi pagi, berbekal buku dan segelas kopi buatan sendiri yang sedikit lagi menampakan ampasnya. Menunggu apa dan siapa, aku tidak tahu. Hujan sudah sedari dulu tetap begitu, menyapa sewaktu-waktu dan kapan beranjak tak pernah tahu. Kini malah mendorong ku agar terus menunggu, dengan membawa syair langit, sengaja ditempel pada jendela kamar ku, terselip diantara kata dan baitnya, wajah rupawan nan jelita. Sekali lagi, menunggu apa dan siapa, aku tidak tahu.

Aku putuskan melawan sihirnya, menuju warung kopi seperti biasa. Dunia macam apa seperti ini, sehabis serangan sihir hujan bertubi-tubi berhasil ku tampik. Aku  melihat djara dan opi secara bersamaan mencari sudut yang pas untuk menikmati secangkir kopi dan habiskan malam syahdu beraroma dingin dan kopi yang saling bercampur dan beradu.

Kawan lama, sudah beberapa tahun tidak bertegur sapa dan habiskan malam bersama-sama. Apakah mereka yang aku tunggu? Mereka sama – sama menyukai pembicaraan filsafat, dulu sering sekali ku diceritakan banyak hal tentang filsafat. djara berbicara ala akademis, kaku dan penuh dengan keseriusan. Lain lagi dengan opi, filsafat dibawanya layaknya kak seto bercerita kepada anak-anak tentang sebuah kisah klasik nan heroik atau kancil yang pandai ngelabuhi buaya. Keduanya sama dalam tema pembicaraan atau cerita, namun beda dalam cara dan gaya. Lamunan ku menuju masa lalu membayangkan mereka dulu. Ah, aku suka sekali meromantiskan masa lalu. Lagi-lagi, sejenak ku berfikir bahwa dunia tidak lah sama dalam muka, toh setiap hari kita disuguhi kebaikan dan keburukan sekaligus yang beriring. Namun masih saja soal hidup. Semua senantiasa sama, hanya wajah dan kemasan yang membuatnya beda. Medium katanya. Kita lupa orisinalitas, terkadang malah tidak berimbang dalam memandang. Terpisah dari sejarah, terbuai kemudahan yang berlimpah ruah.

Aku sudahi lamunan sesegera, menikmati secangkir kopi yang baru saja datang dan  secepat kilat ku sapa dan ajak mereka mengisi kursi kosong berjumlah dua buah yang telah tersedia, dalam prosesi ku menikmati secangkir kopi di malam sahdu yang semakin memikat karena waktu tidak berjalan ditempat dan hujan dari tadi telah lenyap. Segelintir kata terucap, belum sampai kalimat menjadi utuh dalam penyambutan indah seputar kehitampekatan kopi yang ku seruput, pelayan datang memberikan daftar menunya sembari bercuap seputar kopi terbaru beserta detail kecut pahit yang terkandung kepada mereka, tanpa jeda. Beruntung pelanggan lain segera menyusul datang berkunjung, sigap pelayan menguasai jangkuan, tak mau ketinggalan memberi pelayanan prima, meninggalkan jejak berupa daftar menu dan nota harga, aroma keberadaanya terbawa angin malam tanpa sisa. Maka keduanya sesegera kembali menjadi manusia yang suka bercerita, menjadi begitu asyik memilih kopi yang akan dijamah, kembali kefitrahnya sebagi manusia, menjadi pendegar dan pencerita.

Aku bukan malam sepi dengan bersanding kopi, aku manusia yang memilih malam dan kopi dengan ceria. Akupun layangkan pertanyaan kepada mereka. “Dulu kalian sering menceritakan tentang filsafat untuk ku, awal mula kemunculan beserta para tokohnya. Lama sekali aku sudah tidak berjumpa dengan kalian, bolehkah kalian ceritakan lagi kepada ku apa itu filsafat kepadaku?” Ujar ku kepada mereka dengan sedikit wajah harap meminta. “Siappp”, jawab mereka dengan semangat dan kompak.

Aku pandangi sekitar, terlihat wajah indonesia memikat nan apik menyejukan mata atas perwakilan kopinya yang berjejer di meja barista. Kerumunan orang dimejanya masing-masing saling berbagi cerita dan mengangkat gagang cangkir berisi jenis kopi kesukaanya, pun terhias juga canda tawa. Ku tebak jenis kopi yang diminum oleh si empunya meja dekat ku, dari aromya. Kopi gayo mungkin. Dalam hati ku menjawab.

“Tunggu sebantar yah, saya antarkan pesanaan kopi dulu” ujar opi. Aku menampilkan wajah kaget seketika opi meminta izin, tanpa main mata opi dan djara tertawa, mencerca ku dengan kata galau dan lain-lain yang tidak ku suka. Segera ku iyakan, supaya menyudahi tawaan dan cercaan mereka. Opi selalu cekatan dan tidak suka ketinggalan bagian, apalagi soal kopi, bercerita dan malam. Hidup baginya adalah perkara menikmati perjalanan hidup sembari ngopi, hitam manis pasti di temui dan perlu ada cerita diantaranya khusus perihal filsafat jangan dilupa, untuk menjaga kewarasan akal sehat, pesanya dulu.  Selang tidak lama. “Sekalian yah, kopi toraja” ujar djara dengan nada layaknya sepotong besi. opi seperti biasanya, santai dan secepat kilat mengiyakan dan mengantarkan daftar pesanan kepada pelayan.

Sekembalinya opi ke meja, djara langsung mengambil alih, memulai cerita seperti seorang bapak dan anak habiskan malam didepan rumah. Filsafat baginya adalah kekakuan dan kelenturan, kekakuan karena diapit oleh sains dan teologi. Kelenturannya dijelaskan dari keberhasilan membangun jembatan antara keduanya. Melerai dan mempertemankan keduanya dalam segala ketidaktemuannya. Sains yang dominan pasti dan inderawi, teologi sebaliknya. Filsafat membangun keindahan dari keduanya menuju kedamaian manusia berumahkan dunia. Opin pun giliran bercerita. Filsafat baginya lumrah tanpa keistimewaan. Manusia katanya sudah memang demikian, dibekali akal dan perasaan. Tinggal mau tidak melanjutkan perjalanan, sebagai mahluk gelisah yang parsial dan penuh khayalan. Filsafat bertugas mengurai kemungkinan dari khayalan atas kecairan dunia dan manusia. Bertugas menjadikan dunia menjadi ceria. Aku hanya mendengar dan mengajukan tanya. Panjang lebar berbincang dan bercerita kemana-mana menjadi semakin asyik dan mempesona sembari menyeruput kopi masing-masing.

Aku rasakan keriuhan semakin mengecil, kursi-kursi tak lagi berpenghuni, meja tinggal kumpulan cangkir kopi tak bertuan dan asbak menyerupa gunung berbahan putung rokok dengan lekukan beraneka macam, menyiratkan pesan perasaan si-empunya. opi meminta izin menyudahi semuanya dan disusul djara kemudian. Semuanya kembali ke semula, seperti ketika ku pandangi hujan berbekal buku dan secangkir kopi buatan sendiri di kamar waktu lalu. Padahal baru saja tadi hilang rasanya tentang siapa yang ku tunggu dan apa itu menunggu dalam hidupku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s