Kakek Pepaya

Senja rasa kopi bercampur ketan susu telah nampak dalam kerumunan anak-anak muda di warung ketan susu sore lalu di bilangan perkampungan inggris pare kediri yang mashur sesentro Negri. Letaknya ditengah sawah menjadikanya istimewa disamping menu yang ditawarkan memang menggoda dan berbeda. Perihal kemenggodaan tansu ini menyusup dalam sanubari kelas ku, yel-yel tansu-tansu hadir dan tak pernah luput diserukan ketika ada salah satu dari temanku mendapatkan nilai terbaik ataupun dapat menjawab pertanyaan dari tutor dengan lihai, gesait dan benar. Pun cerita lain dari kawan ku, ia tinggal didekat sekitaran warung satu itu, banyak habiskan waktu luangnya untuk berkunjung kesana, ujarnya begitu dalam perbincangan ku dengannya waktu lalu, juga kawan-kawan ku di camp begiti semangat ketika ajakan kesana berkumandang. Ini adalah bukti wartansu tidak bisa dinafikan lagi keberadaanya bagi warga pendatang dari negeri antah berantah.

Wartansu begitu menarik dan menggelitik untuk dikupas sedalam-dalamnya, bukan perihal kementasuanya, melainkan fenomena kawula muda yang hadir disana. Di watansu kita bisa melihat miniatur nusantara yang tidak melebur, tidak saling menyapa, berbagi senyum apalagi berbagi cerita. Kawula muda dengan pilihan tempat nongkrong tidak dari biasanya, yaitu di pusat keramaian, pinggir jalan penuh riuh hilik mudik kendaraan atau tempat kekinian sepertinya KFC dan starbuk yang lihai mencipta keseragaman gaya hidup dan selera.

Wantansu dengan pangsa pasar kawula muda, menjanjikan suasana nongkrong asri nan alami, hilir mudik angin sepoi-sepoi seolah sudah dikontrak oleh watansu untuk selalu hadir disana sebagai fasilitasnya. Kerumunan anak muda di watansu menghasilkan kicauan sangkut sengkarut, mengikut kemana arah angin membawanya. Keriuhan layaknya di dalam suatu pabrik, setiap orang memiliki bagian-bagian sendiri, mengurus mesinnya sendiri, kerjaanya sendiri, suaranya sendiri. Pada keriuhan sepertinya itu, hadir ditengah-tengah mereka kakek tua bak oase dipadang pasir. Beliau menebar senyum menyangking sebuah PEPAYA dan sebungkus plastik kresek, berkeliling menghampiri meja demi meja dengan gigih sembari berucap menawar PEPAYA mas PEPAYA. Ia hilir mudik dengan ceria Dan tak canggcanggung menawarkan pepayanya kepada anak-anak milinial, anak-anak yang selalu setia bersama kawannya, tak pernah lupa dipegang penuh erat dibawa kemana-mana, lengket bahkan sudah menyatu, smartphone namanya.

Sang kakek selalu hadir disana, menawarkan pepayanya. Satu persatu Cara ia menjualnya, ketika satu buah pepayanya laku terjual, ia akan kembali ke jalan menyapa, berbisik, dan meraih satu pepaya lagi di kerangjang yang memeluk erat nan hangat sepeda berisi belasan pepayanya yang sudah diparkirakan miring ke kiri layakknya melapor kepada situan bahwa dagangan laku terjual, dan siap untuk mengambil Dan menjualnya kembali.

Kawan ku tergerak untuk membeli pepaya darinya, disapalah beliau. Dengan gesit ia menghampiri kami, langsung menyatakan harga dan jenis pepaya. Katanya ini pepaya California, ada lagi di kerangjang sana Thailand. Loh kok luar Negri jawabku dalam hati, aku Kira pepaya ini asli indonesia, aku beranikan diri bertanya kepadanya, pepaya saking pundi Pak, kulak dimana? Dugaan awalku kakek ini menanamnya di Kebun rumahnya sendiri. Kakek menjawab” ini menanam sendiri nak, di pinggir kali kontong kediri. Sepanjang pinggir Kali tertanam pepaya jenis California, Thailand dan 2 lagi namanya aku lupa. Penanaman pepaya sepanjang Kali kontong ini program pemerintah mas, kita petani nyewa tanahnya Dan diberi bibit pepaya dengan berbagai Varian. Bibit pepaya ini mas didapat Cara khusus, kita di ajari Cara mendapatkan bibit terbaik. Yaitu potong pepaya tiga bagian. Ambil potongan ditengah, dan pilih biji paling mendekati bulat. Memakai spedometer untuk mengukur kebulatanya. Pikir ku alat itu jangkar sorong bukan speedometer. Ujar kakek dengan polos dan bahagia.

Kakek kemudian melanjutkan jualanyanya. Ternyata dugaanku salah, kakek itu tidak menanam sendiri di Kebun rumahnya. Ia masih percaya sama pemerintah, barangkali karena yang terpenting baginya tetap menanam Dan bekerja. Kakek yang sungguh luar biasa, menantang kerumunan anak muda Dan tidak kenal lelah apalagi merasa asing. Barangkali itu adalah caranya mendidik anak muda, dengan laku hidup. Memberikan contoh bahagia mengarungi bahtera kehidupan dengan bekerja, tak kenal usia. Atau barangkali ini bentuk protes Dan sindiran nan mesra kepada kawula muda atas zaman yang serba cepat namun kawula muda seakan acuh menikmati Secangkir kopi tertawa terbahak-bahak.

Pare, 26 February 2017.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s