Menyebar Konsumerisme

Bulan kedua ditahun 2017 pemerintah kota surakarta akan mengadakan solo great sale selama satu bulan. Tanggal 29 januari 2017, hari minggu telah dilakukan pembukaannya oleh pemerintah kota surakarta dan pemerintah provinsi jawa tengah di ngarsopura, didepan pasar antik triwindu kota solo bertepatan dengan car free day, disaat warga solo dan sekitarnya menghabiskan minggu paginya untuk berolahraga, berjalan-jalan bersama sanak famili ataupun kawan-kawannya dan tidak lupa berbelanja.
Solo great sale adalah program pemerintah kota surakarta dibidang pariwisata untuk menarik banyak wisatawan supaya mau berkunjung ke kota solo dengan iming-iming menuai ceria dan bahagia, di kemas dengan promosi, memberikan diskon, intensif dan berbagai macam hadiah ketika melakukan kunjungan dan “berbelanja”. Solo great sale memasuki tahun ketiga, pelaksanaan tahun ini jauh berbeda dengan 2 tahun sebelumnya, karena diikuti oleh seluruh pedagang dari pangsa besar sampai kecil (baca: pedagang pasar tradisional) dan juga penyedia jasa seperti agen travel dan hotel dari ukuran kelas kecil menengah sampai atas, dari yang syariah sampai konvesional. Pemerintah pusat pun memberikan dukungan penuh dengan menjadikan solo great sale sebagai salah satu kalender event nasional.
Solo great sale tahun ini mengusung tema : “Ceria bersama Pesona Belanja Di kota Budaya”, dalam pembukaanya ganjar pranowo mengungkapkan “ solo great sale ketiga ini saya yakin solo bisa menunjukan kiprahnya dan yang hadir bisa “berbahagia”, bapak ibu silahkan “berbahagia”, berbelanja, sukseskan solo great sale. (merdeka.com) Pun dengan rudyatmo sebagai wali kota “menghimbau supaya masyarakat memanfaatkan kegiatan solo great sale dengan datang berbelanja hingga ke pasar tradisional. (merdeka.com)
Aku menduga bahwa solo great sale adalah upaya mencipta masyarakat konsumsi, menyebarkan konsumerisme dengan masive dan terbuka dilakukan oleh pemegang kuasa atas nama meningkatkan pemerataan ekonomi dengan bumbu mandiri, kreatif dan angka-angka. Konsumerisme merupakan turunan kapitalisme, berakarkan pada liberalisme. Mendaku memberikan kehendak untuk memilih, namun senyatanya tidak. Mengatur pencahayaan, menyulap satu barang menjadi warna-warni dan aneka pilihan, merekayasa kebutuhan dengan cara mengubur keinginan oleh rantai raksasa pencinta harta yang pandai merupa hasrat. Menyebar dan menanam benihnya dengan kata-kata mengoda, singkat dibaca dan disertai gambar yang merangsang hasrat untuk sesegera berbelanja.
Secara umum, belanja merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dengan menggunakan alat tukar (baca: uang). Sebelum ada alat tukar berupa uang, cara pemenuhan kebutuhan antara manusia satu dengan manusia yang lain dengan cara barter (tukar barang secara langsung, tanpa perwalian atau penyamaan). Kemunculan alat tukar menghasilkan kata belanja yang masuk dalam jenis kerja.
Seiring berjalannya waktu, belanja kemudian di kemas sedemikian rupa, untuk mengubah orientasi atau tujuan dari belanja sebagai pemenuhan kebutuhan menjadi kebutuhan itu sendiri, yang akhirnya meningkatkan produksi dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi pemilik modal. Jean baudrilan mengatakan dalam bukunya masyarakat konsumsi bahwa pada suatu barang mengandung nilai tanda dan nilai simbol, berbeda dengan karl marx yang menggunakan nilai tukar dan nilai guna dalam analisanya. Nilai tanda dan simbol dari suatu barang yang sebenarnya dikejar oleh masyarkat konsumsi, tujuan dari belanja atau membeli barang dengan maksud supaya kelihatan wao, bangsawan, menaikan status kelas kosial. Misal membeli handphone bukan untuk tujuan mempermudah komunukasi melainkan menunjukan keberhasilan atas kemampuan membeli, guna menaikan kelas sosialnya atau mengejar kebanggaan dengan akhiran menyulap hasrat ingin menjadi butuh tiada tara. Maka dapat kita temukan dalam tas berisi aneka jenis macam handphone terbaru dengan sim cardnya masing-masing dan berisi nomor telpon yang sama dan fungsi yang tidak jauh beda, pun di almari dan rak sepatu terdapat aneka macam jenis baju dan sepatu yang berjejar yang mungkin baru satu kali dipakai atau bahkan belum sama sekali.
Produksi hari ini berupa tanda dan simbol. Komoditas kehilangan dirinya dan fungsinya, tujuan memiliki barang bergeser dari melengkapi kekurangan menjadi ajang menunjukan gengsi supaya dianggap terpandang. Kita diajar untuk haus pada simbol, melupa realitas dan esensi. Terperangkap pada pemaknaan kemajuan ekonomi, yang diukur berdasarkan meningkatnya konsumsi namun menjauhkan diri pada produksi. Produksi dan konsumsi yang lama menyatu, terpisahkan, kehilangan keterkaitanya. Kita sedang dibudayakan untuk mengkonsumsi, menghamba pada simbol dan meng-aleniasi diri sendiri. Demi apa, meraup untung sebesar-besarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s