MEMBACA BUKU PERCAKAPAN BUKU

buku_Musyawarah_Buku

Buku adalah satu dari sekian banyak jalan manusia hari ini. Perjalanan menapaki masa-masa dalam kehidupan, masa lalu ataupun masa depan sudah pasti akan di ritualkan oleh mahkluk bernama manusia. Peritualan kehidupan merupakan usaha mengkaitkan antar fase kehidupan agar tidak berkelindan dalam berjalan. Membuka buku berarti beritual, mengeja daftar prestasi dan kegagalan umat manusia dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, abad ke abad ataupun zaman ke zaman.

Islam dalam ruang peradabaan, berhasil menjalin sambungkan peradabaan dari saluran pengetahuan yang bersumber dari peradaban sebelumnya ataupun yang berada di sampingnya dengan semangat ketuhanan sebagai hasil dari permenungan panjang atas wahyu pertama, Bacalah. Peralihan peradaban berkait erat dengan pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan dan mediumnya. Islam berhasil membawanya dulu, mencipta halaman-halaman baru disetiap pergantian hari bahkan jam. Lantas bagaimana sekarang?

Gambaran tersebut sebagaimana tersurat dan tersirat dalam buku berjudul Musyawarah Buku: Menyusuri Keindahan Islam dari kitab ke kitab karangan Khaled Abou El-Fadl. Buku Cetakan Pertama tahun 2002, PT Serambi Ilmu Semesta ini berhalaman 221 adalah kumpulan esai-esai dengan masa garapan selama lima tahun dimulai dari akhir tahun 1994 sampai 2000.

Khaled abou el-fadl mengawali pencariaannya melalui penyimakan. Bermodal kemampuan mendengar sepenuhnya, keterbukaan, dan waktu, berusaha untuk hadir dalam majlis. “ saya hanya dapat mendengarkan perbincangan-perbincangannya dan dengan rendah hati, saya menanti transformasi saya – transformasi saya menjadi sebuah buku. Kalian semua, yang hadir di musyawarah ini, adalah intelek-pada-suatu-masa meskipun tanpa bentuk.” Hal 24. Lewat percakapan imajinernya bersama tumpukan buku karangan ilmuwan-ilmuwan muslim yang telah lama membersamainya, ia mencoba menggali pesan dan keindahan lalu meramunya menjadi halaman baru, sebagaimana para pendahulu melakukan ibadah tersebut dan berhasil mewarnai masanya.

Melalui kumpulan esai dengan tema-tema berurutan layaknya manusia ketika memulai pencariannya akan sesuatu hal atau kebenaran akan sesuatu hal, ditambah lagi muatan-muatan dalam masing-masing esainya yang berkait erat dengan fenomena tentang umat islam pada masanya. Fenomena hari ini, mengawal permenungannya dan berhasil membuka percakapan ataupun musyawarahnya. Khaled abou el-fadl, manusia yang dimiliki umat manusia dunia berasal dari bagian umat islam sekaligus Profesor di bidang hukum islam adalah mahluk gelisah karena melihat umat islam terpojokan bahkan berada pada pojok-pojok peradaban. Serangan-serangan dari perubahan zaman dan peradaban unggul minim etika dan moral menjadikan peradaban islam tiada lagi menelorkan halaman, cenderung bersifat reaksioner, terkungkung oleh teror, terjebak dogma dan meninggalkan tradisi dan kefitrahannya atas pemberian akal. Maka ia pun memberi penawar “ sebagai muslim, kita tidak bisa membangun sebuah alternatif yang bersifat opurtunis atau pragmatis, atau suatu alternatif yang bersifat hegemonik atau menindas. Sebagai muslim, satu-satunya opsi yang terbuka bagi kita adalah alternatif yang memiliki prinsip etika dan moral. Kita harus memprotes dengan mewacanakan dan menyakinkan, kita tidak dapat meraih kemenangan yang begitu konyol di atas mayat orang lain, dan kehilangan hati dan simpati sebagian besar orang. Alternatif kita harus berupa gemuruh penuh semangat Musyawarah buku, bukan gemuruh bom yang sangat menakutkan. Hal 163

Gairah bermusyawah kepada buku adalah madu yang lama dekat bersanding namun lebih memilih racun nan jauh disana. Musyawarah buku lintas masa telah lama berlangsung di zaman islam awal, kini dihidupkan kembali oleh Khaled El-Fadl di apartemennya, New jersey, Amerika, lewat narasinya dalam bentuk tertulis. Budaya bermusayawah terhadap buku adalah manifestasi perintah tuhan pertama sekaligus mata air pelepas dahaga di padang pasir gersang peradaban hari ini. Nurcholish Madjid pun berkata lewat Buku Kaki Langit Peradabaan Islam “sekarang ilmu pengetahuan modern yang dirintis umat Islam itu menjadi khasanah umat manusia. Maka, sebagai pemilik aslinya, umat islam berhak mengambil dan menjadikanya untuk bahan memahami ajaran agama secara lebih luas dan mendalam.” Begitulah tangkapan dari membaca buku percakapan buku ramuan Khaled El-Fadl.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s