Pagi lalu dan kini

Kau pagi yang lalu

Kau adalah pagi dalam semrawut waktu. 

Pagi dengan lantunan kicauan burung, menyeruak dan menyambar-nyambar.

Pagi dengan terik menyengat, tapi aku memilih mendekat dan memeluk penuh.

Pagi dengan nafas bening. ku pilih, ku seduh dan ku sruput tanpa cemberut.

Kau adalah pagi. Ku ingat itu beberapa tahun lalu.

Ketika aku masih saja termangu menunggu-nunggu.

Di beranda waktu, bersama segelas kopi tanpa ampas, berasa empedu.

TS, 16-07-2017

Pintu dan jendela rumah mu

kau sudah menutup pintu, sejak senja kemarin lalu.

Tapi kau sengaja tidak mengunci jendela.

Kau tulis dan berkabar pintu terbuka lebar-lebar.

Tapi kau memilih bercakap dengan ku hanya lewat jendela.

Tempat angin hilir mudik dan kau menatap waktu. Melirik-lirik penuh harap.

Jadi kau sedang menunggu, ancang-ancang membuka pintu dan segera menutup jendela. Itu Bukan untuk ku.

Baru saja aku mengeja waktu, membuka kertas kosong kita dulu.

Kertas yang selalu menjelma pagi.

Ku namakan kau pagi, begitupun kertas yang kita isi, dengan pena kenangan penuh sedu sedan itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s