Silahkan Memilih, Bunga atau Besi?

Cinta adalah hiruk-pikuk tapi kita memilih ketenangan. Manusia sejatinya kumpulan antara nafsu dan budi. Ia bisa memilih satu dari keduanya atau kedua-duanya sekaligus. Pilihan adalah cinta sekaligus jalanya. Setiap pilihan akan merupa tujuan berbeda.

Tujuan hidup manusia sendiri bukan lain adalah hidup itu sendiri. Hidup dengan keramaian atau kesepian. Di dalam Keramaian akan memungkinkan terputusnya syaraf-syaraf ketenangan, karena tanpa sunyi, jarak dan jeda. Tapi masih terselip harapan untuk menaklukan itu. sebaliknya kesepian akan membawa berkembanya syaraf-syaraf ketenangan. Kemungkinan abai, lalai bahkan terhanyut  didalamnya terbuka lebar. Kita akan memilih keramaian juga menemukan ketenangan atau ketenangan secara langsung dan menemukanya. Inilah gagasan cerpen dilarang mencintai bunga-bunga karya kuntowijoyo, terbesit dan ku tangkap setelah rampung membacanya.

Dilarang mencintai bunga-bunga menghadirkan dua benda dalam keseharian kita, ia mewakili kelembutan dan kekakuan. Adalah melalui bunga dan besi, dialog mendalamnya dibuka. Tak kalah menariknya lagi, Kuntowijoyo menggunakan tokoh anak kecil (bernama buyung) sebagi lakon utama, ia menyuguhkan pilihan kepadanya setelah mengenal bunga, mengenal ketenangan batin dan jiwa serta merasakan cinta dari kakek bunga-bunga yang memilih menyendiri, mencari ketenangan lewat menanam dan merawat bunga-bunga, di samping rumah yang baru ia tempati. Buyung heran, ia mengumpulkan data tentang kakek bunga-bunga dengan giat bertanya kepada semua tetangga. Ia kecewa, cerita dan data, ia dapatkan berbeda-beda. Ia mengintip, memanjat pohon pepaya akhirnya waktu memberinya kesempatan, berhasil mengenal dan menghabiskan waktu bersama kakek bunga-bunga, cerita tidak pernah absen tentang bunga dan filosofisnya. 

Pilihan antara bunga dan besi, mendadak muncul ketika buyung setiap pulang ke rumah membawa bunga dan merawatnya di dalam kamar menggunakan perkakas dapur ibunya. Ayah buyung adalah seorang pencinta, ia memilih mencintai kerja, mencintai bengkel, dan mencintai besi. Bengkel dan besi, dunia ayah buyung,  dunianya adalah industrialisasi. Ia menampilkan wajah hiruk pikuk, keras, kaku dan penuh nafsu. Jembatan, rel kereta, kendaraan perlu dibangun, kita harus bekerja. Kau harus bekerja buyung. Ungkap ayahnya.

Buyung si anak kecil diharuskan memilih antara bunga dan besi disaat ia mulai membawa dan merawat bunga didalam kamarnya. Ayahnya, wajah industri menampilkan diri sebagai pemaksa dan pelarang. Memaksakan buyung untuk tidak mencaintai bunga-bunga, menggantinya dengan besi. Bunga katanya hanya untuk perempuan, tangan laki-laki harus kasar, harus bekerja. Ayahnya membawa ketidakadilan, ia memegang erat tradisi, ia terjebak patriakalisme.

Paska mengenal besi, membantu ayahnya dibengkel, diajari cara membuat skrup. Ia habiskan waktu untuk memegang palu. Membuat skrup mengurangi waktu kunjungnya ke kakek bunga-bunga, kehilangan kesempatan mendapatkan pelajaran ketenangan dan kebahagian hidup dari tutut sang kakek bunga-bunga. Buyung mulai mempertanyakan kerja, pikir-nya kerja adalah ayahnya bukan kakek bunga-bunga. Ia bertanya kepada kakek bunga-bunga, apa pekerjaan kakek selama ini? Kakek menjawab menyiram dan merawat bunga-bunga.

Manusia, mahluk berakal budi. Ingin tahu adalah fitrahnya. Menentukan pilihan melekat dalam dirinya. Pun mahluk unik, tercipta dari dua anasir berbeda, ruh tuhan dan tanah liat. Semakin menambah besar kemampuannya dalam menentukan pilihan, merdeka dalam tindakan dan pikiran. Maka manusia, mahluk pembawa pertanggung jawaban.

Buyung telah diberikan rasa ingin tahu, rasa cinta dan pilihan. Besi atau bunga. Nafsu atau budi. Atau kedua-duanya. Buyung adalah kita. Manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s