Menulis Apa Adanya Menceritakan Realitas?

Menulis adalah milik kita, manusia. Makhluk bernalar dengan kemampuan mengolah data, mengembangkan dan membagikan kepada sesama. Menulis sebagai aktifitas yang menyatu dengan manusia di kemudian hari mengalami kekakuan, akibat proses pemisahan dan peninggalan secara sadar ataupun tidak sadar. Maka banyak kita temukan, menulis sebagai sesuatu kemampuan atau prosesi yang harus di pelajari, berasal dari luar.

Buku mungil bersampulkan gambar beberapa anak muda membawa tas berjudul jejak langkah anak kampus, menjawab siapa mereka. Kita bisa langsung menebak seketika, tanpa perlu berkontemplasi, memakan banyak waktu dan tenaga, mahasiswa.

Terbit pada tahun 1989 oleh penerbit PT Gramedia, tertulis nama penyunting di bawah judulnya Ismail Marahimin. Siapakah dia? Informasi tentangnya dapat ditemukan pada kata pengantar dan halaman terakhir, 164, bertuliskan riwayat hidup. Maka tentangnya walau sedikit dapat diketahui juga, Ia adalah seorang dosen di Universitas Indonesia, pengampu mata kuliah penulisan populer di jurusan sastra inggris fakultas sastra, kelahiran Medan, Sumatra Utara, pada 23 April 1934.

Riwayat pengajaranya dimulai dari mengajar SMP tahun 1954 setelah selesai menyelesaikan studi SGA Negeri Medan, sembari melanjutkan studi di IKIP Negeri Medan jurusan Inggris dan tamat tahun 1964 sebagai sarjana pendidikan, pada tahun menyelesaikan studinya, ia juga mulaimengajar di jurusan dan almamater yang sama hingga tahun 1969. Lalu pada tahun 1971 ia resmi menjadi dosen Universitas Indonesia. Ia mempercayai bahwa menulis adalah pembiasaan. Maka pelajaran menulisnya adalah menulis itu sendiri.

Buku berisi kumpulan cerpen hasil dari tugas menulisnya kini menambah bacaan sastra dan dapat kita nikmati, tanpa melupa kwalitas ataupun teknik penulisan.  Proses pemilihan cerpennya, berdasarkan kriteria enak dibaca tidak serta merta kehilangan objektifitasnya. Ia meminta juga penilaian dan pendapat dari orang lain atau ahlinya seperti sapardi djoko damono.

Cara mengajarnya layaknya mengajak anak kecil berjalan pertama kali yaitu berjalan, jatuh, bangun, berjalan, jatuh, bangun, berjalan lagi, jatuh lagi dan bangun lagi dan seterusnya. Tidak ada penanaman motivasi disana, karena motivasi menulis adalah menulis itu sendiri.

Kalau boleh menyebut, lebih tepatnya ini bukan buku kumpulan cerpen melainkan buku dokumentasi perjuangan belajar menulis. Bagaimana tidak? Setiap pertemuanya mahasiswana diwajibkan membaca tulisanya, lalu di bantai habis-habisan oleh si pendengarnya. “Ada jenis mahasiswa yang marah dan legowo menerima ketika kritik tanpa tedeng aling-aling keluar dari berbagai macam sudut ruang perkuliahan”. Tuturnya dalam pengantar. Ternyata selain memotivasi dengan memberi tugas menulis setiap pertemuan, ismail marahimin juga menciptakan ruang terbuka di mata kuliahnya.

Ada 22 buah cerpen didalamnya, tentang berbagi hal. Ia membebaskan anak didiknya menulis. Menggali pengalaman sehari-hari, membiarkan imajinasi sesuai kondisi sosial zamanya, mengajak mahasiswanya menggali bahasa ibunya untuk mewarnai tulisannya.

Cerpen-cerpen didalam buku kumpulan memuat kejadian sehari-hari dengan tema seputar percintaan, penyesalan, pengorbanan, kekaguman, kehidupan rumah tangga, perjuangan dan komitmen. Komplit. Cerita di dalamnya memuat gaya baru penceritaan, bahasa lokal begitu kentara dan keterusterangan mendominasi. Hal tersebut menunjukan terjadinya perubahan nilai di sekitar tahun 80-an. Kebebasan, kesetaraan dan keadilan antara perempuan dan laki-laki mulai menunjukan masa-masa dewasa.

Semua perubahan nilai dan realitas yang berkembang terekam dalam cerpen hasil belajar menulis. Tanpa di sadari keterusterangan dalam menulis menghasilkan penggambaran realitas yang sesuai dan dapat mudah di pahami dan dipetakan.

Belajar menulis dengan selalu menulis itu sendiri, dengan apa adanya, di sisi lain berhasil menampilkan realitas beserta perubahannya. Realitas berhasil di pindah alihkan begitu adanya dalam cerita. Terdokumentasikan, jadi genap. Dokumentasi perjuangan menulis dan juga menabung realitas. Benar-benar menganyam jejak, jejak langkah yang perlu untuk di tiru dan teruskan. Hebat. Mungkin begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s